Bursa Saham Asia Pasifik Bergerak Variatif di Tengah Upaya Penanganan Corona

KONTAK PERKASA FUTURES – Saham-saham di Asia Pasifik bergerak variatif pada perdagangan Rabu pekan ini. Hal tersebut karena negara-negara di kawasan itu terus melakukan langkah-langkah untuk memerangi pandemi virus corona.

Dikutip dari CNBC, Rabu (8/3/2020), saham-saham di Australia memimpin kerugian di antara pasar-pasar utama di kawasan Asia Pasifik, dengan S&P / ASX 200 menurun 1,28 persen karena saham bank-bank besar seperti Commonwealth Bank of Australia dan Westpac masing-masing turun lebih dari 2 persen.

Di Jepang, Nikkei 225 turun di perdagangan pagi hari, sementara indeks Topix 0,15 persen lebih tinggi. Di Korea Selatan, Kospi merosot 0,4 persen, sementara indeks Kosdaq naik 0,16 persen.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia ex-Jepang diperdagangkan 0,35 persen lebih rendah.

Perkembangan pada pandemi global coronavirus kemungkinan akan terus menjadi fokus para investor, dengan langkah-langkah jarak sosial yang lebih ketat sedang dilaksanakan oleh negara-negara regional dalam beberapa hari terakhir untuk mengekang penyebaran penyakit.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Selasa menyatakan keadaan darurat untuk memerangi infeksi virus corona di pusat-pusat populasi utama.

Singapura juga mengesahkan serangkaian undang-undang yang melarang pertemuan sosial dalam ukuran apa pun di area pribadi dan publik, menurut laporan media setempat.

Sementara itu, China mencabut pembatasan perjalanan di Wuhan, pusat virus di Cina daratan, mulai Rabu, menandai berakhirnya penutupan yang dimulai pada 23 Januari.

Secara global, lebih dari 1,4 juta telah terinfeksi oleh coronavirus sejauh ini sementara setidaknya 81.000 nyawa telah diambil, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas John Hopkins.

Sementara di pasar saham Amerika Serikat (AS), saham berakhir lebih rendah setelah sesi yang bergejolak. Dow Jones Industrial Average ditutup 26,13 poin lebih rendah, atau 0,1 persen, pada 22.653,86 setelah naik lebih dari 900 poin pada sesi tinggi.

Kemudian, S&P 500 mengakhiri hari perdagangan 0,2 persen lebih rendah pada 2.659,41 sedangkan Nasdaq Composite turun 0,3 persen menjadi 7.887,26.

BACA JUGA : Rupiah Diprediksi Menguat Terkerek Fasilitas Repo The Fed

KONTAK PERKASA FUTURES

Sempat Dibuka Menguat, Rupiah Kembali Loyo Jelang Siang Hari

PT KONTAK PERKASA FUTURES –  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa pekan ini. Rupiah sebenarnya sempat menguat pada pembukaan perdagangan hari ini.

Mengutip Bloomberg, Selasa (7/4/2020), rupiah dibuka di angka 16.385 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 16.412 per dolar AS. Namun hingga pukul 10.35 WIB, rupiah tertekan hingga 16.425 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 16.385 per dolar AS hingga 16.415 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 18,17 persen.

Sedangkan dasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 16.410 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 16.556 per dolar AS.

“Sentimen positif kembali masuk ke pasar keuangan yang mendorong penguatan indeks-indeks saham AS, Eropa kemarin dan Asia pagi ini,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2020).

Pasar kembali merespon positif laporan melambatnya laju kasus positif Covid-19 di Amerika Serikat dan Eropa sebagai pusat pandemi global.

Selain itu Pemerintah AS diisukan akan kembali menggelontorkan stimulus besar kedua senilai 1,5 triliun dolar AS untuk meredam dampak negatif wabah ke perekonomian.

Menurut Ariston, isu tersebut menambah sentimen positif ke pasar keuangan.

BACA JUGA : Polri Siapkan Skenario Hadapi Mudik saat Corona Covid-19

PT KONTAK PERKASA FUTURES

Minyak Dunia Anjlok, Harga BBM Bisa Langsung Turun?

PT KONTAK PERKASA – Harga minyak dunia memang mengalami penurunan hingga sempat menyentuh di level USD 20 per barel. Namun penurunan tersebut tidak membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) langsung turun.

Pengamat Energi Sofyano Zakaria mengatakan, Indonesia merupakan negara yang pengadaan minyaknya dilakukan secara berkala, dengan skema tersebut BBM yang didatangkan saat ini dibelinya sudah sejak beberapa bulan lalu dengan harga saat itu.

“BBM yang tersedia saat ini, pada dasarnya adalah BBM yang dibeli sejak 2 atau 3 bulan yang lalu,” kata Sofyano, di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Menurutnya, dengan skema tersebut penurunan harga minyak dunia yang terjadi pada beberapa waktu belakangan, tidak bisa membuat harga BBM langsung diturunkan.

“Jika dipaksa harus turun, maka ini bisa membuat rugi Pertamina sebagai badan yang diandalkan negeri ini dalam penyediaan BBM negeri ini,” jelasnya.

Terkait fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah seharusnya mengambil kebijakan saat harga turun, yaitu selisih harga yang dihasilkan akibat penururunan itu disimpan sebagai cadangan, kemudian digunakan untuk menahaan kenaikan harga BBM ketika harga minyak dunia naik kembali.

“Tetapi terhadap harga BBM untuk industri seperti solar , maka Pertamina tentunya harus menyesuaikan harga jualnya karena selama ini harga industri selalu dikoreksi per setiap tanggal 1 dan tanggal 15 pada setiap bulannya,” tandasnya.

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 kembali menekan harga minyak dunia. Kondisi ini berdampak pula pada pergerakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) bulan Maret 2020.

“ICP Maret jadi USD 34,23/barel atau turun US D22,38/barel dari USD 56,61/barel pada Februari 2020,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, dalam situs Kementerian ESDM, Minggu (5/4/2020).

Besaran ICP tersebut, imbuh Agung, tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 79.K/12/MEM/2019 tentang Penerapan Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Maret 2019 yang efektif mulai berlaku sejak 1 April 2020.

Agung menjelaskan, penyebab utama dari penurunan ICP adalah penyebaran Covid-19 di sebagian besar negara-negara produksi minyak mentah sehingga mengakibatkan anjloknya penurunan produksi.

“Travel restriction di sejumlah negara turut mengakibatkan permintaan minyak global jadi menurun drastis,” ungkapnya.

International Energy Agency (IEA) melaporkan proyeksi permintaan minyak mentah global di tahun 2020 turun sebesar 1,1 juta barel per hari menjadi 99,90 juta barel per hari.

Di sisi lain, IEA mengungkapkan adanya peningkatan stok minyak mentah AS pada bulan Maret 2020 sebesar 11,3 juta barel menjadi sebesar 455,4 juta barel dibandingkan bulan Februari 2020.

Sementara laporan OPEC menunjukkan proyeksi permintaan minyak mentah global di tahun 2020 turun sebesar 1 juta barel per hari menjadi 99,73 juta barel per hari.

OPEC melansir bahwa penurunan permintaan minyak di pasar internasional dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Pertumbuhan GDP Dunia tahun 2020 sebesar 0,6 persen menjadi sebesar 2,4 persen akibat melemahnya perekonomian sejumlah negara maju dan dampak serangan Covid-19.

Faktor utama lain dari perubahan ICP Maret, jelas Agung, adalah keputusan Arab Saudi menurunkan harga jual minyak mentah mereka untuk merebut pangsa pasar dan berencana untuk meningkatkan produksi setelah Rusia menolak bergabung dalam rencana tambahan pemotongan produksi OPEC+. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar atas kondisi yang telah over supply.

Sedangkan menurut Tim Harga Minyak Indonesia, crude oil throughput kilang-kilang di Jepang berkurang sebesar 2,81 juta barel per hari dibandingkan kapasitas kilang sebesar 3,52 juta barel per hari di akhir bulan Maret 2020 jadi faktor penentu di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, kilang-kilang di Korea Selatan juga mengurangi konsumsi minyak mentah AS dan beralih ke minyak mentah Timur Tengah seiring berkurangnya spread WTI-Dubai, serta diskon harga minyak mentah Timur Tengah.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Maret 2020 dibandingkan bulan Februari 2020:

– Dated Brent turun sebesar USD 23,61 per barel dari USD 55,44 per barel menjadi USD 31,83 per barel.

WTI (Nymex) turun sebesar USD20,09 per barel dari USD 50,54 per barel menjadi USD 30,45 per barel.

– Basket OPEC turun sebesar USD 21,03 per barel dari USD 55,49 per barel menjadi USD 34,46 per barel.

– Brent (ICE) turun sebesar USD 21,75 per barel dari USD 55,48 per barel menjadi USD 33,73 per barel.

– ICP SLC sebesar USD 35,78 per barel dari USD 57,18 per barel pada Februari 2020. 

BACA JUGA : 60 Emiten Buyback Saham, Nilainya Capai Rp 17,2 Triliun

PT KONTAK PERKASA

Rupiah Menguat ke 16.445 per Dolar AS Ikuti Sentimen Harga Minyak

KONTAK PERKASA FUTURES – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Jumat ini. Pagi ini sebagian aset berisiko menguat mengikuti penguatan indeks saham AS.

Mengutip Bloomberg, Jumat (3/4/2020), rupiah dibuka di angka 16.445 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 16.495 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 16.445 per dolar AS hingga 16.447 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 18,60 persen.

Sedangkan dasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 16.464 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 16.741 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menjelang akhir pekan bergerak menguat terbawa naiknya harga minyak dunia.

“Pagi ini sebagian aset berisiko yaitu indeks saham Asia dibuka menguat mengikuti penguatan indeks saham AS karena prospek kenaikan harga minyak mentah dunia yang bisa mengangkat harga saham “big cap” perusahaan minyak,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, lanjut Ariston, penguatan rupiah karena naiknya harga minyak harusnya sementara karena pasar masih dihadapkan pada kenyataan perlambatan ekonomi karena wabah Corona Covid-19.

Penularan Corona

masih menunjukkan peningkatan di seluruh dunia kecuali di China. Banyak negara yang melakukan pembatasan pergerakan masyarakat yang memicu penurunan aktivitas ekonomi.

Amerika Serikat pada Kamis kemarin melaporkan jumlah orang yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran mingguan meningkat tajam menembus rekor di angka 6,65 juta klaim, padahal rata-rata hanya di kisaran 250 ribu klaim.

“Oleh karena itu rupiah masih bisa tertekan hari ini karena Corona Covid-19 dan dampak negatifnya ke perekonomian,” kata Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran 16.350 per dolar AS hingga 16.600 per dolar AS.

BACA JUGA :Akhir Pekan, IHSG Dibuka Menguat ke 4.582,32

KONTAK PERKASA FUTURES

BI Tak Akan Biarkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2,3 Persen

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, di tengah merebaknya wabah virus corona (Covid-19) sekarang ini pihak bank sentral tetap bisa menjaga angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dibawah 2,3 persen.

“Kita dengan berbagai policy yang Insya Allah dilakukan baik, pertumbuhan ekonomi kita upayakan tak akan lebih rendah dari 2,3 persen,” ujar dia saat sesi teleconference, Kamis (2/4/2020).

Perry melanjutkan, pihak bank sentral memandang nilai tukar rupiah saat ini levelnya memadai. Dia pun memastikan Bank Indonesia akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Dengan itu, kami punya keyakinan nilai tukar rupiah tidak hanya bergerak stabil, bahkan cenderung menguat sampai Rp 15 ribu sampai akhir tahun ini. Bahkan cenderung masih undervalue,” kata orang nomor satu di Bank Indonesia tersebut.

Selain itu, Bank Indonesia bersama pemerintah juga terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi mencapai batas mininal 2,3 persen.

Proyeksi tersebut dianggapnya dapat tercapai berkat langkah stimulus fiskal yang telah diputuskan melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) kemarin.

“Dalam rapat dewan gubernur bulanan 19 Maret, dalam skenario moderat itu (pertumbuhan ekonomi) 2,4 persen. Semoga dengan usaha ini dan doa ikhtiar kita kepada Allah, pertumbuhan ekonomi bisa minimal 2,3 persen,” ungkapnya.

BACA JUGA : Ekonomi China Terimbas Corona, Indonesia Cari Pasar Lain Ekspor Komoditas Perkebunan

PT KONTAK PERKASA FUTURES

Bank Indonesia Tak Akan Biarkan Rupiah Sentuh 20 Ribu per Dolar AS

PT KONTAK PERKASA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan skenario terburuk pada perekonomian nasional akibat penyebaran virus corona (Covid-19). Salah satunya yakni nilai tukar rupiah diprediksi bisa mencapai Rp 20 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

Sri Mulyani pun menyampaikan, skenario buruk rupiah pada tahun ini bisa mencapai Rp 17.500 per dolar AS. Proyeksi tersebut masih lebih tinggi dari target APBN 2020 yang hanya Rp 14.400 per dolar AS.

Menanggapi omongan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menghimbau masyarakat agar tak panik. Sebab pemerintah akan berjuang keras agar kurs rupiah tidak mencapai titik level tersebut.

“Skenario yang berat ataupun sangat berat sebagai suatu forward looking antisipatif supaya tidak terjadi. Agar skenario yang sangat berat tidak terjadi. Kurs Rp 20 ribu akan kita antisipasi supaya tidak terjadi,” seru dia dalam sesi video conference, Rabu (1/4/2020).

Dia pun menegaskan bahwa tingkat nilai tukar rupiah saat ini sudah memadai. Sementara rupiah mencapai Rp 20 ribu per dolar AS hanyalah proyeksi terburuk yang akan sangat dihindari.

Rupiah pada saat ini sudah memadai. Skenario adalah sebagai forward looking supaya tidak terjadi. BI akan terus menjaga nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Bank Indonesia beserta pemerintah disebutnya akan terus berkoordinasi agar wabah virus corona tidak banyak berdampak buruk, baik dari sisi kemanusiaan hingga perekonomian nasional.

“Bahwa yang kita sampaikan ini adalah suatu komitmen koordinasi yang erat sebagai langkah antisipatif agar dampak covid 19 bisa segera diatasi, baik dari sisi kemanusiaan, sektor usaha, keuangan, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar dia.

BACA JUGA : WhatsApp Segera Bisa Dipakai di Lebih dari Satu Smartphone

PT KONTAK PERKASA

Kemenkeu Percepat Pencairan Anggaran untuk BNPB Sebesar Rp 3,14 T

KONTAK PERKASA FUTURES – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempercepat pencairan anggaran untuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Gugus Tugas Covid-19. Anggaran ini nantinya diberikan untuk menangani dampak Corona Covid-19 dari sisi kesehatan seperti pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat kesehatan.

Saat ini, anggaran sebesar Rp 3,14 triliun telah ditetapkan untuk Bagian Anggaran BNPB (BA BNPB) yang dikelola BNPB. Anggaran ini siap digunakan oleh Kemenkes dan Gugus Tugas Covid-19 untuk menangani dampak Corona Covid-19.

“Ini adalah respons kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar kementerian atau lembaga dapat merefocussing dan merevisi alokasi anggaran yang sudah ada untuk percepatan penanganan Covid-19 secara cepat, sederhana, akuntabel, dan prudent (hati-hati),” dikutip dari keterangan resmi Kementerian Keuangan, Selasa (31/3/2020).

Kemenkeu juga mempercepat proses revisi dan penyesuaian anggaran untuk penangananCorona Covid-19 ini dari 5 hari kerja menjadi 2 hari kerja secara online.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai Ketua Gugus Tugas Covid-19 berdasarkan Keppres Nomor 7 Tahun 2020 mengajukan usulan anggaran untuk penanganan Corona Covid-19.

Usulan ini disampaikan melalui surat Kepala BNPB Nomor B-109/KA-BNPB/PR.04.02/03/2020 tanggal 17 Maret 2020.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

BACA JUGA : Harga Emas Antam Turun Rp 2.000 per Gram

KONTAK PERKASA FUTURES

Model Matematika Baru Lacak Epidemi Lebih Efektif, Bagaimana Caranya?

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Para peneliti di Princeton dan Carnegie Mellon mengembangkan sebuahmodel matematika baru yang disebut dapat melacak epidemi secara lebih efektif, dengan cara memperhitungkan mutasi dari penyakit yang bersangkutan.

“Kami ingin dapat mempertimbangkan intervensi seperti karantina, mengisolasi orang, dan lain-lain. Kemudian melihat bagaimana mereka mempengaruhi penyebaran epidemi saat patogen bermutasi ketika menyebar,” kata H. Vincent Poor, salah satu peneliti dan dekan ad interim di Fakultas Teknik di Princeton, dikutip dari keterangan resminya via Eurekalert, Senin (30/3/2020).

Untuk membuat prediksi tentang perkembangan penyakit yang dilacak, model yang saat ini banyak digunakan menggunakan data dari dokter dan petugas kesehatan. Vincent menyebut model-model itu tidak dirancang untuk menjelaskan mutasi penyakit yang bersangkutan.

Padahal, kata Vincent, mengetahui bagaimana mutasi berpengaruh terhadap penularan atau virulensi dapat membantu para pemimpin dunia memutuskan kapan harus melembagakan perintah isolasi atau mengirim sumber daya tambahan ke suatu daerah.

“Pada kenyataannya, ini adalah hal-hal fisik. Tetapi dalam model ini, mereka disarikan menjadi parameter yang dapat membantu kita lebih mudah memahami dampak dari kebijakan dan mutasi,” tutur Vincent.

Penelitian ini terinspirasi dari penyelidikan terhadap pergerakan informasi melalui jejaring sosial, yang memiliki kesamaan dengan penyebaran infeksi biologis.

Jika sesuatu menjadi sedikit lebih menarik bagi si penerima, misalnya, si penerima mungkin akan meneruskannya atau menyampaikannya kepada sekelompok orang lebih luas. Dengan membuat pemodelan atas variasi tersebut, orang dapat melihat bagaimana perubahan dalam pesan mengubah audiens targetnya.

“Penyebaran rumor atau informasi melalui sebuah jaringan, sangat mirip dengan penyebaran virus melalui suatu populasi,” kata Vincent. “Potongan informasi berbeda memiliki laju transmisi berbeda. Model kami memungkinkan kami untuk mempertimbangkan perubahan informasi saat menyebar melalui jaringan dan bagaimana perubahan itu mempengaruhi penyebaran.”

Di dalam makalah yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut, para peneliti menggambarkan bagaimana model mereka mampu melacak perubahan dalam penyebaran epidemi yang disebabkan oleh mutasi organisme penyakit.

Mereka saat ini sedang berupaya untuk mengadaptasi model tersebut untuk memperhitungkan langkah-langkah yang dapat diambil untuk kesehatan masyarakat dan membendung epidemi ini.

“Mudah-mudahan, model ini dapat memberi para pemimpin dunia cara untuk lebih memahami alasan mengapa, misalnya, Covid-19 menyebar jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, dan dengan demikian membantu mereka menyebarkan tindakan pencegahan yang lebih efektif dan tepat waktu,” ujar Vincent.

(Why/Isk)

BACA JUGA : Ekonomi Indonesia Diprediksi Baru Pulih dari Corona pada 2021

PT KONTAK PERKASA FUTURES

Terdampak Corona, Simak Skema Pemberian BLT oleh Pemerintah

KONTAK PERKASA FUTURES – Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono, menjelaskan skema pembiayaan bantuan lansung tunai (BLT) yang diberikan kepada pekerja formal dan informal. BLT disalurkan kepada mereka para pekerja yang terdampak akibat mewabahnya virus corona atau Covid-19.

“Kalau untuk sektor formal pakai skema BP Jamsostek perlebaran dana operasional sehingga bisa bantu pekerja sektor formal,” kata Susi di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Sementara itu, skema BLT bagi pekerja sektor informal atau pekerja harian bisa menggunakan kartu prakerja. Di mana fungsi kartu prakerja yang tadinya didukung untuk meningkatkan kompetensi lewat vokasi, sekarang digeser untuk mendukung pemberian BLT.

“Nah kartu prakerja sudah dilaunching pekan lalu, namun demikian untuk mulai menerima aplikasi online kita targetkan di 1 April 2020,” kata dia.

Susi menambahkan para pekerja informal maupun masyarakat umum bisa mendapatkan BLTlewat kartu prakerja ini. Namun demikian ada syaratnya. Di mana mereka yang berhak menerima adalah sedang tidak penuhi pendidikan formal, tidak sekolah di SMA ataupun kuliah. “Karena desainnya untuk pekerja,” singkat Susi.

Seperti dkketahui, sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaikkan insentif penerima kartu pra kerja yang mulanya Rp 650.000 menjadi Rp 1 juta selama 4 bulan ke depan. Pemerintah, kata dia, telah mengalokasikan anggaran Rp 10 triliun untuk kartu pra kerja.

“Sehingga nanti setiap peserta kartu pra kerja akan diberikan honor insentif Rp 1 juta per bulan selama 3 sampai 4 bulan,” ujar Presiden Jokowi saat video conference dari Istana Merdeka Jakarta, Selasa (24/3).

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

BACA JUGA : Rupiah Menguat ke 16.075 per Dolar AS Terdorong Kenaikan Wall Street

KONTAK PERKASA FUTURES

Harga Minyak Anjlok, Batu Bara Jadi Bahan Bakar Fosil Termahal di Dunia

KONTAK PERKASA FUTURESBatu bara, alternatif bahan bakar yang dulu dikenal sebagai bahan bakar paling murah, kini berbanding terbalik. Komoditas ini menjadi bahan bakar fosil termahal di dunia, menggeser minyak mentah.

Mengutip laman Bloomberg, Kamis (26/3/2020), harga minyak yang amblas sebulan terakhir membuat harga patokan harga minyak mentah dunia berada di bawah kontrak rata-rata.

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newscastle kini berada di angka USD 66,85 per metrik ton, Jumat (20/3/2020) lalu. Angka tersebut setara harga minyak seharga USD 27,36 per barrel. Bahkan, harga minyak mentah Brent berada di posisi USD 26,98 per barrel.

Konsumsi batu bara di Amerika Serikat dan Eropa sendiri masih rendah karena adanya alternatif gas alam yang murah dan dapat diperbarui.

Sementara di Asia, konsumsi batu bara kian melonjak, terutama bagi negara-negara berkembang. Meski dibutuhkan, batu bara berkontribusi karbondioksida 2 kali lebih banyak dan memberi polusi udara 30 persen lebih banyak daripada bensin.

Sementara, batu bara ICE Newscastle lebih banyak digunakan sebagai pembangkit listrik. Oleh karenanya meskipun jadi yang termahal, secara substansi penggunaan batu bara berbeda dari perdagangan minyak yang biasa dilakukan.

Adapun faktor yang membuat harga minyak dunia semakin turun ialah membanjirnya pasokan (oversupply). Kebijakan pembatalan penerbangan dan pembatasan perjalanan yang diambil beberapa negara membuat penggunaan minyak mentah turun 20 persen.

Namun di sisi lain, Arab Saudi dan Rusia malah membanjiri pasar dengan pasokan minyak tambahan. Alhasil, harga minyak turun hingga 60 persen hingga sekarang.

Berdasarkan pantaun Liputan6.com dari data Bloomberg, harga minyak Brent saat ini masih berada di kisaran USD 27,17 per barrel sementara minyak WTI berada di posisi USD 24,12 per barrel.

Harga minyak mentah AS naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Hal ini didukung oleh kemajuan pada paket stimulus ekonomi AS yang tertunda, bahkan ketika data pemerintah menunjukkan pandemi virus corona mulai mengurangi permintaan bahan bakar AS minggu lalu.

Dikutip dari Antara, permintaan akan produk minyak, terutama bahan bakar jet, turun secara dramatis ketika pemerintah secara global mengumumkan penutupan secara nasional untuk memperlambat penyebaran virus corona.

Permintaan bahan bakar diperkirakan akan turun tajam di seluruh dunia pada kuartal kedua dengan sebagian besar penerbangan terhenti dan perjalanan darat sangat dibatasi. Baru-baru ini, India, negara terpadat kedua di dunia dan konsumen minyak terbesar ketiga, memasuki penutupan selama 21 hari.

Produk bensin mingguan AS yang dipasok turun 859 ribu barel per hari (bph) menjadi 8,8 juta barel per hari pekan lalu. Penurunan satu minggu terbesar sejak September 2019, menurut Badani Informasi Energi AS (EIA). Permintaan bahan bakar secara keseluruhan turun hampir 2,1 juta barel per hari selama seminggu.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik USD 0,48 atau 2,0 persen, menjadi USD 24,49 AS per barel. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik USD 0,24 atau 0,9 persen menjadi 27,39 dolar AS per barel.

Para senator AS dan pejabat pemerintah Trump telah mencapai kesepakatan tentang RUU stimulus USD 2 triliun yang diperkirakan akan disahkan Kongres pada Rabu (25/3/2020) membantu meningkatkan pasar.

Kepala eksekutif pedagang minyak terbesar dunia, Vitol Group, memperkirakan kehilangan permintaan 15 juta hingga 20 juta barel per hari (bph) selama beberapa minggu ke depan.

BACA JUGA : Dihajar Corona, Gubernur BI Sebut Perbankan Indonesia Masih Kuat

KONTAK PERKASA FUTURES